Friday, 30 September 2016

Pentas Teater: Kepentingan Asal Kepentingan

KPK bekerja sama dengan Komunitas Benih Tumbuh (Kombeth) dan SMPI Al Azhar 11 Serang mempersembahkan:
"Kepentingan Asal Kepentingan"
(Dari naskah drama Ratna Dwi Astutik, Carut Marut Kepentingan dalam buku antoligi Teacher Supercamp 2016)

Sutradara: Peri Sandi Huizche
Penata Musik: Ikhsan 'Kissrun' Gumelar
Pencatat Adegan: Uthera Kalimaya
Aktor: Mauliedya Yassin dan Siswa SMPI Al Azhar 11 Serang

Durasi: 45 menit

Jadwal Pertunjukan:

Jumat, 30 September 2016
Lapangan SMPI Al Azhar 11 Serang
Pukul 16.30 s.d. 17.30 WIB

Sabtu, 01 Oktober 2016
Indonesia International Book Fair 2016
Jakarta Convention Center
Pukul 10.00 s.d. 12.00 WIB

Sunday, 11 September 2016

Kepada Naluka


: Selamat ulang tahun

kau mengetukku dengan cara paling gaib
bumi yang berputar di telapak kaki
terasa hingga di kepala
suhu tubuh lebih panas dari biasa
kau sedang mengukur ingatanku, bukan?
bagaimana bisa aku lupa?
sedang ingatan paling panjang
selalu ada di luka paling dalam
karena itu, pagi ini
aku datang sebagai laron di lampu kamar
siap bunuh diri di atas kue tart
setelahnya, aku akan menghilang
dengan begitu, semogaku yang panjang
dapat kau makan dengan tenang.
(2016)

Saturday, 10 September 2016

Bim Atau Petak Umpet


Sudah lama tidak berbicara denganmu. 'Apa kabar?' sepertinya bukan kalimat yang bagus untuk memulai percakapan. Meskipun sudah lumrah ditanyakan setelah sekian lama tidak ada perjumpaan. Karena lumrah itulah, jawabannya pun menjadi standar, biasanya perihal kesehatan atau perasaan; baik dan tidak baik. Kesibukan atau kegiatan. Kesantaian jarang sekali dijadikan jawaban, hingga si yang bertanya kemudian menanyakannya; 'sibuk apa sekarang?'
     Bagi yang sibuk atau memiliki banyak kegiatan atau pekerjaan, itu pasti dianggap jawaban yang lumrah pula. Mereka akan memberitakan sebagian kegiatannya dan agak spoiler juga. Tapi, pertanyaan itu akan sama dengan pertanyaan 'kapan nikah' pada si jomblo, bila orang yang ditanya itu tidak memiliki kegiatan apapun atau pengangguran.
    Karena itu, aku tidak  ingin menanyakannya. Aku ingin menanyakan satu pertanyaan yang akan kau jawab dengan seluruh peristiwa yang selama ini terjadi. Tapi, jangan berbohong. Bukankah itu pula yang dulu pernah kau katakan padaku? Berbohong bisa menjadi salah satu kelainan jiwa, apalagi kebohongan yang terus ditumpuk. Kau tahu bukan, apa akibatnya bila seseorang ketahuan berbohong dan kita mendesaknya untuk jujur? Perubahan sikap, ilfil, atau menghindar. Itu lumrah saja, sih. Meskipun menurutku tidak mesti melakukannya. Anehnya, setiap dari kita selalu melakukannya. Bukankah itu lucu? 
      Karena aku sayang padamu, maka akan kusilakan kau jujur saja. Kau tahu bukan, aku orang yang selalu memerhatikan tanda? Kau tidak bisa membohongiku, meskipun ketika kau melakukannya, aku akan berpura-pura mengiyakan. Bukan bermaksud menjerumuskanmu lebih dalam pada lubang 'bohong-berbohong' ini, tapi lebih kepada aku memercayai kau memiliki alasan membohongiku. Itulah kenapa aku marah. Marah pada diriku sendiri karena membuatmu berbohong.
     Jujur saja, sekarang aku tidak percaya diri. Aku tidak enak mengganggu seseorang, bahkan jika orang itu adalah dirimu. Kau ingat ketika aku tidak makan tiga hari dan kau marah-marah ketika mengetahuinya? Saat itu kau datang dengan kotak berisi makanan rumahan. Ikan asin kesukaan, semur jengkol kebanggaan, rendang, dan masakan lain yang tak bisa kuhitung berapa harganya jika kau membeli semua itu di rumah makan. Tapi, aku tahu kau tidak akan sembarangan membawakanku makanan, jika bukan kau yang membuat, pastilah ibumu. Eh, apa kabar ibu? Apa ia masih suka menyanyikan I Surrender-nya Celine Dion sambil merentangkan tangan ke arah ayahmu?
       Bim, apa yang ada di kepalamu sekarang?
     Kau tahu? Hingga saat ini, aku belum memutuskan kalimat apa yang pertama kali aku ucapkan padamu. Karena itu, ketika kau meneleponku, aku tidak mengangkatnya. Bagaimana bisa aku mengangkat telepon darimu, sementara aku tidak memiliki kalimat apapun di kepalaku?
    "Hai...," dengan sangat canggung. Atau "Caelaah, sekarang cakepan lu?" dengan gaya gadis cerewet yang dulu kau kenal. Tapi, aku malu. Sekarang aku sudah tidak secerewet itu lagi. Aku lebih banyak diam. Aku sekarang lebih banyak melihat ke tanah, sehingga kurang hapal pada wajah orang-orang. Karena itu, maukah kau yang menyapaku terlebih dahulu? Maukah kau yang mengulurkan tangan terlebih dahulu?
    Aku sudah duduk di sini selama dua jam. Aku menunggumu. Tapi, aku tahu kau pasti tidak tahu aku berada di sini dan menunggumu. Dulu, kau selalu mengomeliku saat aku mengatakan bahwa aku sedang menunggu seseorang. Meski aku tidak memberitahunya. Kemudian, kau yang datang saat itu sembari berkata; "perempuan macam apa yang menunggu seseorang, tapi tidak memberitahu orang itu?"
     Perempuan sepertiku. Perempuan yang percaya pada naluri dan reaksi alam. Perempuan yang menganggap bahwa jika dua jiwa sudah memiliki keterhubungan, maka dimana pun ia menunggu dan sedang apapun seseorang yang ditunggunya itu, mereka akan bertemu. Aku melakukannya lagi kali ini. Tapi bukan untuk orang lain.
   Jika naluriku benar, malam ini kau akan datang. Entah sebagai kebetulan, atau kesengajaan. Tapi, jika benar yang berdiri di hadapanku malam ini adalah kau. Bolehkah aku menanyakan ini:"Apa kamu sudah memutuskan mencintaiku?" [*]

Kepada Kamu Yang Merahasiakan Diri



Terbangun pada dini hari seperti ini terkadang membuatku agak random. Mulai dari mengerjakan tugas perdapuran, maksudku mencuci pakaian, hingga memeriksa percakapan-percakapan di telepon genggam. Bahkan, meneruskan menonton film yang sebelum tertidur tadi aku tonton.

Tapi, ada yang menarik di kotak masuk e-mailku pagi ini. Maafkan, aku tidak terlalu suka memeriksa e-mail, selain masalah pekerjaan. Begini, seseorang melalui blog ini bertanya padaku pada 8 September lalu:

Bagaimana Jika seseorang cinta padamu bukan karena dirimu melainkan karena perasaannya yang tumbuh atas karya-karyamu? Apa yang akan kau perbuat?

Regards,
Terus terang, aku tidak tahu cara lain menjawab pertanyaannya selain menuliskannya di sini. Sebelumnya aku sudah berusaha menjawabnya melalui e-mail, tapi tidak berhasil. Jadi, inilah jawabanku. Tentu saja sudah lebih panjang dari jawaban di e-mail yang kukirim padanya:

Kepada kamu yang merahasiakan diri,
 
Apa yang bisa aku perbuat selain mengucapkan terima kasih? Terima kasih sudah membaca karya-karyaku. Terima kasih sudah mencintaiku dari karyaku. Aku sangat terharu. Sungguh.

Setiap dari kita memang selalu membuat daftar panjang untuk mencintai seseorang atau sesuatu, bukan? Entah itu diawali dari fisiknya, atau seperti 'seseorang' katamu itu. Fisik memang lebih banyak dipilih sebagai alasan untuk jatuh cinta. Tapi, menurut kepalaku yang sedang sibuk memikirkan seseorang ini, mengawali mencintai seseorang dari karyanya itu melebihi segalanya. Ini seperti kau mencintai udara dan kemudian kau memutuskan untuk mencintai hidup ini. Alah! Apalah ini. 

Aku tidak ingin mengatakan itu lumrah. Aku juga tidak mau menambahkan kenarsisanku di sini. Tapi satu hal yang perlu aku garis bawahi, karyaku adalah bagian dari diriku. Aku percaya, ia--jika karyaku bisa disebut begitu--berasal dari seseorang di dalamku.  Seseorang yang murni yang tidak tersentuh dosa-dosa di bumi. Ini agak mistis, sih.
Di biodata Instagram, aku menulis: 'buku yang belum selesai kau baca'. Sebab aku percaya, proses memahami dan mencintai seseorang itu sama dengan membaca buku. Itu artinya, kau harus membaca seseorang secara menyeluruh jika ingin memahami atau mencintainya. Bahkan jika pada akhirnya kau memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup bersama seseorang yang kau baca itu. Nah, itu akan menjadi tugas membaca seumur hidup. Jadi, jika perasaan 'seseorang' tumbuh dari karya-karyaku, itu sudah benar. Tinggal bagaimana ia bisa membaca seluruhku dan bisa membedakan aku yang aku dan aku yang bukan aku dan tetap mencintaiku. Itu saja.
Ah, andai aku mengetahui siapa 'seseorang' itu, mungkin aku akan mentraktirnya kopi. Tentu saja, aku akan mengucapkan terima kasih berulang kali.

Salam,
 Lain waktu, mohon sertakan e-mail. Maksudku, bila kamu ingin menjadi rahasia, silakan. Tapi izinkan aku menjawab secara rahasia pula. Hehehe

P.S: Aku juga tidak mengerti apa yang sedang kubicarakan ini. (-.-")

Monday, 25 July 2016

10 Cover Buku #VokasiKemendikbud



 1. Achieve of Dream by Rachman Noer

Buku ini menceritakan pengalaman traveling ke tiga saya ke Singapore. Berawal dari sebuah informasi via inbok di Facebook dari Gol A Gong bahwa saya akan dilibatkan dalam kegiatan vokasi menulis dari Kemendikbud melalui program beasiswa. Karena saat itu saya sedang mengikuti ajang lomba tingkat Nasional di Palu Sulawesi Tengah, saya jadi kurang fokus dengan tawaran ini. Namun setelah ketua PKBM BCU menginformasikan kelanjutan program ini, saya hanya punya dua pilihan di ambil atau tidak, karena jadwal acara bentrok dengan lomba. Setelah reschedule saya memutuskan untuk ikut.
Ada yang spekta dari kegiatan ini, karena karya kecil saya dari buku perdana bertajug " Spirit of Singapore" membuahkan andil terhadap program literasi Indonesia. Menjadi salah satu rujukan serta mendapatkan apresiasi dari Kemendikbud menjadi tasyakuran saya, bahwa jika karya dibarengi dengan hati maka hasilnya akan membumi. Namun ada sesatu yang beda dengan traveling saya sebelumnya, program ini diikuti oleh 100 pegiat literasi se- Jabar, DKI, dan Banten. Ada target dalam perjalanan kali ini, yaitu Achieve of Dreams dalam mewujudkan buku ke 3 yang lebih dalam antara idealis dan realistis.


2. Aku dan Ketidaktahuanku by Edi Sufandi
Kekagumanku semakin menjadi terhadap negara mungil ini ketika memperhatikan dan merasakan transportasi umum nya yang menurutku benar-benar memanusiakan manusia. Petunjuk di setiap jalan jelas, bahkan hingar bingar kegaduhan suara klakson kendaraan pun nyaris tak terdengar mulai dari Bandara Changi hingga penginapan. Negaranya bersih dan berteknologi maju. Tidak heran jika Changi International Airport menjadi salah satu bandara internasional terbaik di dunia. Karena fasilitas pendukung yang memadai yang mampu memanjakan pengunjungnya.

3. Amazing by Aray Zaenal Abidin
Disiplin dan ketaatan akan aturan yang membedakan Singapura dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Tak heran jika penulis tidak dapat menyembunyikan ketakjubannya saat pertamakali menginjakan kaki di Negara tersebut. Bisingnya lalulintas dan suara klakson yang dibunyikan keras-keras tak terdengar meskipun berjalan-jalan di tengah kota. Tak hanya itu, di pusat-pusat kuliner dan titik-titik keramaian tak ditemukan pengamen. Urusan menyanyi di tempat umum saja, ada aturan yang sangat ketat. Jika tidak punya lisensi atau surat izin, maka jangan harap dapat bernyanyi di ruang-ruang publik. 



4. Jejak Impianku by Rohim
Penulis: Rohim, TBM Nurul Aghnia Kabupaten Kuningan Jawa Barat
“Jejak Impianku” inilah catatan perjalananku untuk pertamakalinya ke luar negeri. Rasa haru dan bangga tak dapat kubendung. Sebuah anugerah yang tak ternilai harganya karena ini juga menjadi impian banyak orang. Tak kusangka, mungkin ini sudah merupakan takdir Tuhan sehingga tepat di akhir Mei 2016 aku mendapat kabar terpilih mengikuti program Vokasi Menulis Kemendikbud ke Singapura setelah sekian lama bergabung dengan teman-teman penggiat literasi di TBM Nurul Aghnia di Kabupaten Kuningan. Perjalanan ini merupakan langkah awal menuliskannya menjadi sebuah buku.
 


 5.  Kuliner di Negeri Labirin by Bidara Sary
Makanan merupakan cerminan keberagaman budaya suatu negeri. Begitu pula dengan Negara Singapura. Meski kecil, negeri seribu satu aturan ini kaya dengan keanekaragaman kulinernya. Ini menjadi daya tarik lain, selain tata kota dan sistem transportasinya. Yah kuliner. Negeri Singa ini dihuni tidak hanya etnis Tionghoa, namun juga Arab, India, Melayu dan Banglades. Tak heran jika penulis menemukan beragam makanan, dari mulai nasi briyani, laksa, mie soto, hingga nasi padang. Aturan ketat terkait kesehatan makanan dan aturan-aturan lainnya membuat makanan di sana pun aman dikonsumsi. Untuk mencari makanan halal pun tak sulit, sebab pemerintah sidah memberikan tanda mana restoran yang menyajikan makanan halal dan yang tidak. 



6. Literaksi: Petualangan Sejuta Makna di Negeri Singa by Andri Gunawan
Buku ini bercerita tentang pengalamanku memasuki fantasi dunia literasi yang penuh misteri, dimana aku harus belajar menyelami dasarnya lautan untuk menembus lorong - lorong gelap yang penuh cobaan dan rintangan demi menggapai sebuah impian melukiskan sebuah keabadian. Mimpiku menjadi kenyataan ketika Kemendikbud, Rumah Dunia dan FTBM Indonesia menyelenggarakan Vokasi Menulis Kemendikbud, ke Singapore. Penulis menceritakan tentang pengalamanya selama menjelajahi Negeri 1001 larangan itu. Diantaranya mengenai kedisiplinan dan ketertiban yang sudah menjadi budaya masyarakat disana, serta system kemanan CCTV yang tersebar seantero negeri itu, dapat menjamin keamanan warganya. 



7. Menemukan Islam di Negeri Tetangga by Cahyati 
Berawal dari sebuah khayalan untuk bisa menginjakkan kaki di Negeri Seribu Satu Peraturan, perjalanan pun dilalui dengan berbagai warna. Buku ini menceritakan kisah perjalananku di Singapura serta butiran hikmah di dalamnya. Bukan hanya sekadar bangunan-bangunan yang menjulang tinggi nan indah yang telah tertata sangat menawan, bukan pula karena canggihnya transportasi yang berlalu lalang di bawah pijakan kaki manusia, tapi aku merasa menemukan Islam di negeri ini.
Singapur yang Islami, begitulah aku menyebutnya. Meski pemeluk agama Islam tercatat sebagai minoritas, namun ajaran Islam diterapkan di sana. Mulai dari kebersihan, kedisiplinan, kepedulian, semangat belajar, dan hal lainnya. Di negeri yang terkenal dengan patung Merlion-nya itu, aku menemukan banyak hikmah bahwa Islam bukan hanya ajaran tapi pelaksanaan.


 8. Menjemput Cita di Negeri Singa by Asri Rismalah
Buku ini berisi, tentang pengalaman seorang anak perempuan, yang selalu berhayal dan bermimpi terbang naik pesawat ke negeri-negeri di belahan dunia lain. Di penghujung Mei 2016, mimpi itu menjadi nyata. Do’a yang ia panjatkan bertahun-tahun dijawab Tuhan. Di atas pesawat, air mata membasahi pipinya. Dari perjalanan yang dilakukan dia dapat melihat Indonesia dari jauh, bukan untuk membandingkan indahnya Indonesia, namun membaca Indonesia dari luar.  


9. Merlion I'm Here by Ukhti Sakinah
Ini kali pertama saya melakukan perjalanan ke LN, sebuah perjalanan singkat namun penuh dengan cerita. Tidak ada cerita duka dalam perjalananku, karena semua cerita duka dapat diubah menjadi cerita indah pada akhirnya. Namun bukan berarti tidak ada lika-liku dalam perjalanan ini. Tiga hari di negeri orang membuatku dapat memahami dan menghargai karakter masing-masing teman-temanku. Karena ada pepatah yang mengatakan "Jika kamu ingin mengetahui sifat asli dari temanmu, ajak lah dia bepergian jauh. Ya, bepergian jauh! Dan saya sudah membuktikan itu. 

10. ?